Miekeranda’s Weblog

April 13, 2008

Learning From Eagle to be Strong

Filed under: Belajar,Iman dan Pengharapan — miekeranda @ 4:34 pm
Tags: , ,

PS: Posting ini seharusnya sebelum posting ttg ketiga anakku yang terdeteksi thypus.

——————————

Dear all,

Sebetulnya saya mo sharing soal ketiga anak2 saya yang ternyata setelah periksa darah, 2 dari 3 anak (Aurel dan Andre) positif Thypus, tapi saya pikir nanti aja deh kalo ada waktu. Rasanya ada yang menggerakkan hati saya untuk share cerita ini.

Teman-teman…

Belakangan ini kalau kita perhatikan sekeliling kita, makin banyak orang yang semakin terpuruk hidupnya, tidak lagi sanggup untuk bahkan membeli sebungkus nasi untuk membantunya bertahan hidup dan mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya dirumah.

Masih ingat kasus tukang gorengan yang di kompas beberapa hari yang lalu ? yang karena tidak sanggup lagi membeli bahan untuk modalnya berjualan (Modalnya Rp 50.000, tapi hasil jualannya hanya Rp 35.000 duh, kasihan sekali yah).

Alih-alih menghidupi keluarganya, modalnya aja sudah tidak memungkinkan dia untuk membeli kembali tempe, tahu, minyak tanah, terigu, minyak goreng dan sayur2an yang harganya makin hari makin membengkak. Dia akhirnya memilih mengakhiri hidupnya dengan BUNUH DIRI… (duh, sungguh sedih hati saya membacanya).

Miris sekali memang, tapi kejadian ini tidak hanya dialami oleh kaum papa atau katakanlah middle down, kita2 yang puji Tuhan diberi berkat yang cukup pun tidak lepas dari masalah2 seperti ini, ditambah dengan masalah2 domestik lain yang kadang bikin ubun2 kita berdenyut2 layaknya bayi yang baru lahir, dan terutama kebingungan kita menghadapi beragam masalah akan ke-“Special”- an anak2 kita, membuat terkadang kita jadi lebih sering mengeluhkan hidup, dan pada akhirnya malah capek karena terlalu lelah berkelu kesah.

Saya sering baca di koran betapa pemerintah kita saling “tunjuk hidung” siapa yang paling patut disalahkan dalam keterpurukan ekonomi ini. Dan sayapun berfikir, daripada saya ikut2kan menyalahkan pemerintah (secara, saya sendiri juga mungkin punya andil, entah besar atau kecil, toh saya juga belum tentu lebih baik dari mereka) maka saya lebih memilih untuk mendoakan pemerintah kita, supaya mereka diberi kemampuan untuk berfikir jernih, dan membawa bangsa ini keluar dari keterpurukan kita.

Beberapa hari ini saya juga menerima email curhat dari teman2 yang saat ini mengalami kurang lebih samalah dengan yg saya alami. Yaaah, mengenai kegalauan hati akan masalah2 baik internal maupun external, maka saya berfikir, Instead of grumbling and compalining about my life, alias daripada saya menggerutu dan mengeluh akan hidup saya disini (bosan juga khan temen2 dengerin saya melulu, hehehe), barangkali lebih baik kalo saya ceritain ilustrasi mengenai Rajawali ini, yang seringkali menguatkan saya ketika saya juga sedang lemah…

Mari istirahatkan sejenak hati yang lelah, Merenung sejenak, habis ini kita bangkit lagi, lebih kuat dan lebih semangat dari sebelumnya. Baca dech, moga-moga bener2 bermanfaat. (maaf, kalo nanti ada kata2 yang kurang proper (kurang berkenan), secara saya ini masih amatiran kalo menulis, hehehe).

*

Cerita tentang Rajawali

Ini udah pernah saya posting dulu (dimils Puterakembara), tapi kalo gak salah baru sampai Ibu rajawali yang rela “merontokkan” bulunya demi menyelimuti anak2nya yang akan menetas (nanti saya akan coba lagi tulis dari awal bair runut). Kali ini ceritanya Rajawali Kecil ini sudah siap untuk belajar terbang, Dan tanggung jawab tersebut diambil alih oleh sang BAPAK.

Ketika rajawali kecil sudah menginjak dewasa, sang bapak berpikir bahwa rajawali ini sudah saatnya untuk belajar terbang, supaya dia bisa seperti ayahnya, terbang lebih tinggi dari semua burung diudara, menjadi burung yang TERBAIK dan TERPERKASA dari semua Unggas yang ada dimuka bumi ini…

Maka diajaknyalah si rajawali kecil untuk terbang melihat indahnya dunia dari atas langit. Anaknya senang luar biasa. Mereka bersuka cita, si anak menjerit2 kegirangan…

“Wah… indah sekali, makasih ya pa udah ngajak aku terbang tinggi seperti ini… aku suka sekali… dan aku sangat menikmatinya… Gile bener… CAKEPPPP…. Wah, Papa hebat… makasih ya Pa…makasih… makasih…makasih….”

Si Anak bersyukur karna bisa menikmati indahnya pemandangan dari ketinggian yang TIDAK DAPAT DIRASAKAN oleh burung2 yang lain, karena HANYA Rajawali, burung yang paling “mulia” yang bisa mencapai tempat setinggi ini…

Dalam hidup pun kita juga sering sekali menghadapi saat2 dimana kita mendapatkan sukacita luarbiasa, kita seneng banget, dan dengan mudah kita pasti akan berterima kasih pada Tuhan karena sudah begitu baik pada kita, memberikan sukacita dalam hidup kita, dan membuat kita merasa,

“Ahhh, betapa indahnya hidup saya. SAYA ORANG PALING BERUNTUNG DIDUNIA!…”

Namun apa yang terjadi kemudian???

Kembali ke si Rajawali, tiba-tiba si bapak rajawali ini menjatuhkan anaknya dan membiarkannya menjerit2 ketakutan.

“TOLONG… TOLONG”, Si Anak yang tidak menyangka akan terjatuh dari punggung bapaknya, (secara, dia percaya banget bahwa BAPAK-nya yang SAYANG SAMA DIA ini gak akan mungkin membiarkan dia terjatuh, dan AKAN MENJAGA DIA DENGAN KETAT supaya anaknya tidak terjatuh dari punggungnya).

Si anak PANIK luar biasa dan mulai menjerit-jerit ketakutan,

“Papa… papa… tolong aku… tolong… aku terjatuh… aku pasti mati… tolong aku… Papa… papa… “

Sang papa diam aja dan tetap mengawasi dari kejauhan…

“Papa… Papa jahat… papa tidak kasihan sama aku?… papa gak sayang sama aku yach… papa mo biarin aku mati?… Papa jahat… tolong aku… tolong aku…. aku TAKUT SEKALI papa… Mengapa papa diam aja? papa gak lihat sebentar lagi aku akan terhempas ketanah dan badanku akan remuk terantuk batu2 itu… cepat tolong aku papa… papa… PAPAAAAAAA…”

(Mulai masuk fase: loose FAITH)

Apa yang dilakukan oleh bapak Rajawali itu???…

Dia hanya memandang dari kejauhan. Terbang BUKAN DIBAWAH si rajawali kecil itu supaya anaknya tidak terlalu ketakutan akan mati terantuk batu, tapi malah terbang DIATAS si rajawali kecil, sambil memandangnya dari kejauhan dan hanya menunggu… dan menunggu… sambil tetap terbang dan menjaga jarak dengan si Anak.

Sang anak yang merasa bapaknya ternyata tidak sayang padanya, tidak perduli pada “penderitaan”nya dan malah seolah membiarkannya “terjatuh”, lalu mulai MENGEPAK2AN sayapnya dengan panik. Terus dan terus berusaha, mengepak-ngepakkan sayapnya, sampai akhirnya dia kelelahan dan berhenti berusaha. Ketika dia melihat kebawah, ternyata dia sudah SANGAT DEKAT dengan tanah yang penuh batu.

“Ahhh, mungkin sekarang saatnya aku mati terantuk batu itu, udahlah, aku udah berusaha, pasrah aja dech. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan.”

(Mulai masuk fase: Loose HOPE)

Tapi begitu tubuhnya hampir menyentuh tanah, dengan SIGAP si bapak menyambar tubuh anaknya, PASSSSSS,… TEPAT SEBELUM menyentuh tanah, dan tidak membiarkan sehelai bulupun bersentuhan dengan batu itu.

Si anak terkejut tapi masih belum mengerti apa maksud ayahnya.

Kadang dalam hidup kita juga demikian. Tuhan, Bapa kita, seringkali membiarkan kita “terjatuh” dari pelukannya yang hangat, masuk dalam pergumulan yang sepertinya akan mengantar kita pada kematian. Kita terkadang seringkali menjerit,

“Tuhan… kenapa engkau membiarkan aku menderita… kenapa engkau membiarkan anak2ku sakit dan menderita... kenapa engkau membiarkan aku tidak punya uang, bahkan untuk beli obatpun aku tidak sanggup lagi, mengapa engkau membiarkan aku harus bertengkar dengan pasanganku… mengapa engkau membiarkan pekerjaanku jadi begitu menyulitkanku… mengapa engkau membiarkan orang2 yang aku cintai sakit dan menderita… Mengapa ENGKAU TIDAK MERESPON DOA-DOAKU?Tidakkah kau lihat AIRMATAKU??? KETAKUTANKU???

Mengapa engkau membiarkan gunung meletus, banjir dan gempa melanda rumahku… Mengapa kau biarkan kebakaran yang di kampung sebelah juga mampir kesini sehingga melahap semua milikku….. APAKAH ENGKAU TIDAK SAYANG LAGI PADAKU???“…

Padahal, ketika itu, Tuhan pun sedang terbang diatas kita, melihat kita dari kejauhan, membiarkan kita belajar dan berusaha… Menunggu kita meminta pertolongannya dan menyerahkan sepenuhnya hidup kita dalam tangannya.

Sampai WAKTUNYA TIBA, Dia “terbang” kebawah kita, mengangkat kita, jauh keatas… PASSSSSSS, TEPAT  SEBELUM tubuh kita terhempas ketanah dan mati. Dia mengangkat kita PAS disaat kita benar-benar sudah pasrah dan menyerahkan kendali hidup kita sepenuhnya kedalam tangan Tuhan.

Ketika itulah WAKTU YANG PASSSSSSSSS banget buat Tuhan untuk mengangkat kita kembali keatas dan kembali merasakan sukacita bersama Tuhan…

Kembali ke Rajawali kecil tadi, apakah ini sudah selesai ?…

Belum!! Karena kejadian itu terjadi lagi, berkali-kali rajawali kecil itu dijatuhkan kembali oleh bapaknya, dibiarkannya menjerit2 sambil mengepak2an sayap kecil-nya dan kembali menyambar tubuhnya PAS sebelum tubuh kecil itu terhempas keatas batu.

Dan setiap kali naik keatas, membumbung tinggi keangkasa, menikmati indahnya dunia dari atas sana… Bapak Rajawali kembali menjatuhkan dia kebawah, sampai akhirnya dia mulai KEHILANGAN KEPERCAYAANNYA pada ayahnya… mulai RAGU kalau ayahnya SAYANG padanya sehingga dia lalu bertanya….

“Hei…. maksud loe apa sich bok?… Capek nih… masak ga kasihan sama saya? (hehehe.. ya enggak gitu2 amat sich kata2nya… ini biar sekedar gak ngantuk aja baca critanya… wong dengerin kotbah aja kadang suka ngantuk (kadang mesti di”tonjok” pake permen dulu ;-p) ). apalagi baca yah… hehehe).

Yang tidak disadari oleh rajawali kecil ini adalah setiap kali dia mengepak2an sayapnya, dia SEDANG MELATIH MEMBENTUK OTOT2 SAYAPNYA yang kecil… menjadi kokoh kuat dan gagah perkasa.

Dari hari-ke hari, berkali-kali terjatuh, membuat rajawali kecil ini tumbuh menjadi rajawali yang kuat, dan akhirnya pada “kejatuhan” yang kesekian puluh kalinyaDIA BISA TERBANG DENGAN SAYAPNYA SENDIRI… dan pada akhirnya…. dia tumbuh menjadi RAJAWALI yang GAGAH PERKASA.sama seperti AYAHNYA.

Ketika itulah dia baru menyadari bahwa bapaknya bukan tidak sayang padanya ketika membiarkannya jatuh dari punggungnya… Tetapi justru sedang membantu dia bertumbuh menjadi Rajawali yang HEBAT, kuat dan perkasa. SAMA seperti ayahnya! Dan ketika dia bisa menyadari itu, barulah dia mengucap syukur pada papanya karena telah mengajarkan dia banyak hal yang akan dia BUTUHKAN dalam kehidupan ini.

Sahabat….

Kadang dalam hidup pun Tuhan mengijinkan kita mengalami BERPULUH-PULUH kali “kejatuhan”. Entah itu penyakit, anak, rumahtangga, pasangan, ekonomi, orangtua, sahabat, pekerjaan, dsb. Berkali-kali sampai akhirnya kita mulai RAGU (loosing our Faith) akan CINTANYA Tuhan pada kita… Dan malah mencari jalan keluar pada “illah – illah” yang lain yang mengklaim dirinya “Orang pintar” bisa menyembuhkan “SEGALA JENIS PENYAKIT, PESUGIHAN (biar kaya), SUSUK (Biar cantik dan disayang suami), PAKU EMAS (biar usaha lancar dan sukses?) dsb”

Namun kemudian ketika kita menjadi semakin kuat, semakin sabar, semakin bijak, semakin tegar dan semakin tangguh dalam hidup, maka semakin terbukalah mata kita bahwa TUHAN TIDAK PERNAH MENINGGALKAN KITA SENDIRI. Dia mau membentuk kita menjadi mahkluk yang MULIA, yang Setara dengan diri-NYA dan seperti “Bapa”nya.

Dia selalu mengawasi kita dari tempatnya tempatnya yang tinggi dan PADA WAKTUNYA, dia akan mengangkat kita kembali, pada waktu yang PASSSSS banget. TIDAK pernah KECEPETAN dan TIDAK pernah TERLAMBAT, selalu PASSSS, TEPAT pada waktu-NYA.

Hmmm, maaf kalo tulisan ini kepanjangan dan maaf kalau ada kesan saya menggurui (kebiasaan ngajar anak sekolah minggu soalnya, hehehe) tidak ada maksud sama sekali loh.🙂

Saya hanya ingin berbagi cerita, siapa tahu ilustrasi ini bisa membantu kita mengerti bahwa ditengah2 kelelahan kita menghadapi persoalan2 hidup kita masing-masing, TUHAN SELALU MENGAWASI kita dari kejauhan, dan pada saat yang tepat nantinya, dia akan datang mengangkat kita kembali, dan memberikan yang terbaik untuk kita semua.

Dengan begitu kita tidak akan lagi merasa kesal akan hidup kita…. dan memampukan kita untuk selalu mengucap syukur untuk APAPUN yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita.

Semoga sekali lagi saya tidak dianggap menggurui, mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang bekenan yach, dan selamat menjalani hidup yang melelahkan ini dengan tetap mengucap syukur🙂 !!!

With lots of Love,

Mieke and the kids (yang sedang berjuang melawan penyakit thypus yang menyerang mereka bertiga).
———————————————–

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: